kristofferd.h

kristofferd.h

Jumat, 07 Desember 2012

PSY Minta Maaf Karena Telah Hina Amerika di Lagu 'Dear American'

 



Melambungnya pamor PSY berkat "Gangnam Style" membuat rakyat Amerika mencoba untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang penyanyi berusia 34 tahun ini. Diantara pencarian informasi tersebut, mereka menemukan lagu lama PSY yang memiliki lirik penghinaan terhadap Amerika.

Sontak lagu ini menjadi pembicaran seluruh rakyat Amerika di media online. Oleh karena itu PSY kemudian memberikan pernyataan resmi tentang masalah ini. Dia mengungkapkan permintaan maafnya.

"Sebagai warga Korea Selatan yang pernah belajar dan tinggal di Amerika, aku mengerti pengorbanan pejuang Amerika untuk melindungi kebebasan dan demokrasi di negaraku dan di seluruh belahan dunia," ujar PSY kepada MTV, Jumat (7/12). "Lagu yang aku bawakan bersama penyanyi lain 8 tahun lalu tersebut adalah sebuah reaksi emosional atas perang di Irak dan pembunuhan terhadap dua penduduk Korea saat itu."

PSY menambahkan bahwa dia merasa sangat bersalah dan meminta maaf untuk semua orang yang merasa sakit hati atas kata-kata kasar yang dinyanyikannya dulu. "Walau aku sangat senang terhadap kebebasan untuk mengekspresikan pendapat saat itu, aku percaya aku telah menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya, maka dari itu aku minta maaf," ujarnya.

Oktober 2004, PSY menghadiri konser gabungan bersama beberapa musisi dan penyanyi ternama Korea yang lain. Saat itu dia berkolaborasi dengan grup rock NEXT dan menyanyikan lagu "Dear American". Di lirik tersebut mereka menyebut bahwa tentara Amerika seharusnya mati secara perlahan dan menyakitkan. "Aku sempat tampil di hadapan tentara Amerika baru-baru ini, termasuk di acara Jay Leno," ujar PSY. "Dan aku harap mereka dan seluruh warga Amerika menerima permintaan
FOLLOW MY TWITTER

@kristofferdh BUAT PARA PENGGEMAR K-POP

JAKARTA–Woo-Yong, salah satu personel boyband asal Korea 2PM, menjanjikan penampilan lebih bagus untuk konser kedua mereka di Indonesia.
Boyband yang digawangi Tae-cyon, Nichkhun, Jun-K, Woo-Yong, Jun-Ho, dan Chan-Sung bahkan akan berusaha memuaskan para Hottest, sebutan untuk para penggemar 2PM.
Konser bertajuk “What Time Is It” ini dijanjikan akan lebih bagus dari konser sebelumnya “Hands Up” pada 2011.
“Kami membawa performance yang terbaru, kami pasti membawa yang lebih bagus dari estimasi kalian,” kata Woo-Yong di Jakarta, Jumat (7/12).
Personel lainnya Jun-Ho mengaku pada awalnya mereka kaget dengan para fans mereka di Indonesia yang sangat antusias. Namun, saat ini mereka sudah terbiasa dengan histeria para Hottest Indonesia.
“Sekarang semakin nyaman. Sudah seperti teman saja. Kami nggak sabar ketemu para fans,” ujar Jun-Ho.
2PM kembali menggebrak panggung musik di Indonesia dalam konser mereka bertajuk “2PM Global Tour 2012 – What Time Is It?”. Konser 2PM akan digelar pada Sabtu (8/12) di Mata Elang Internasional Stadium, Ancol.
Boyband yang beranggotakan enam orang tersebut, terkenal dengan penampilan mereka yang penuh semangat dengan gerakan dan tarian yang enerjik, seksi sekaligus nakal tapi tak melupakan kualitas vokal mereka.
Promotor Marygops Studio dan Entourage Entertainment menyediakan lima kelas untuk harga tiket konser 2PM. Kelas Diamond dijual seharga Rp2.000.000, kelas Gold dijual seharga Rp1.250.000, Festival seharga Rp1.000.000, sedangkan kelas Silver dijual seharga Rp750.000 dan Bronze seharga Rp500.000. Siap berjingkrak dengan 2PM? (JIBI/aw)
kembali menyapa penggemar lewat mini album 5.5 berjudul "Forest" (2012) yang dirilis 22 November. Dia juga meluncurkan video musik dari lagu "Return" yang berdurasi 7 menit, 21 November.

Di dalam video itu diceritakan Seung Gi kembali mengenang masa lalu. Dia menyusuri hutan dan kemudian mengunjungi sekolah tempat dia bertemu dengan cinta pertamanya. Sayangnya Seung Gi kecil harus pindah dan meninggalkan gadis yang dicintainya, membuat ending dari video musik ini terasa menyedihkan.

Lagu "Return" yang berirama ballad dengan reff repetitif ini dibawakan Lee Seung Gi dengan apik. Membuat pendengar semakin merasuk ke dalam suasana lagu yang terasa indah. Lagu "Return" ini cocok untuk siapa pun yang ingin kembali mengenang masa lalu.

Kamis, 06 Desember 2012

Setelah merilis full MV dari “Return”, penyanyi dan aktor Lee Seung Gi baru saja merilis BTS video musik untuk judul lagunya “Return”. lagu “Return” diproduksi oleh Epitone Project. Dengan melodi adiktif, lirik lagu ini juga mengisahkan tentang seorang pria yang ingin kembali ke masa lalunya.
Video musiknya sendiri menampilkan Le Seung Gi, serta aktris cilik Kim Yoo Jung.

Jumat, 02 November 2012

SOEKARNO

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika..

Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.


Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi".

Detik Detik Kematian Sang Presiden
- Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.

- Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.

- Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.

- Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.

- Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu

- Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.

- “Pak, Pak, ini Ega…”

- Senyap.

- Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.

- Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.

- Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.

- Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim

dokter segera memberikan bantuan seperlunya.

- Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.

- “Hatta.., kau di sini..?”

- Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.

- “Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”

- Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.

- Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?

- Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.

- Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.

- Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.

- “No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.

- Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.

- Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.

- Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka. Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.

- Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.

- Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.

- Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.

- Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.

- Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.

- Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

Kata Kata Bijak Soekarno
  1. Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]
  2. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)
  3. Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
  4. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.
  6. Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.
  7. ……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……
  8. Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.
  9. Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia
  10. Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya
  11. Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.

HAMENGKUBUWONO IX


Early life

Born as Raden Mas Dorodjatun in Sompilan, Ngasem, Yogyakarta to Gusti Pangeran Haryo (Prince) Puruboyo and Raden Ajeng Kustillah, when he was three years old he was named Crown Prince to the Yogyakarta Sultanate after his father ascended to the throne and became Sultan Hamengkubuwono VIII.
Hamengkubuwono IX had a Western education. When he was four, he was sent away to live with a Dutch family. After completing his primary and secondary education in 1931, Hamengkubuwono IX left Indonesia to attend the Leiden University in the Netherlands. There Hamengkubuwono IX took Indonesian studies and economics. He returned to Indonesia in 1939.

Sultan of Yogyakarta

With the death of Hamengkubuwono VIII in October 1939, Hamengkubuwono ascended to the throne with a coronation ceremony on 18 March 1940.
His full title was Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrakhman Sayidin Panotogomo Kholifatullah Ingkang Kaping Songo.
During his coronation speech, Hamengkubuwono recognized his Javanese origins and said "Even though I have tasted Western Education, I am still and will always be a Javanese."[1]
The 28 years old young Sultan negotiated terms and conditions with 60 years old governor, Dr Lucien Adam, for four months from November 1939 to February 1940. The main points of contention were:
  1. The Sultan did not agree that his prime minister ("Patih Danureja") would be also the Netherlands' employee to avoid conflict of interest.
  2. The Sultan did not agree that half of his advisor would be selected by the Netherlands.
  3. The Sultan did not agree that his small army would receive direct order from the Netherlands' army.
Eventually, the Sultan agreed to the proposal by the government of the Netherlands, after he received insight that Netherlands would leave Indonesia.[citation needed] In May 1940, the Dutch surrendered to the German Army, and in February 1942, the Netherlands surrendered Indonesia to the invading Japanese army.
During Hamengkubuwono IX's reign the office of the Sultan adopted a more democratic and decentralized approach. An example of this was the granting of more power to local village chiefs and general modernization of the way in which the court was managed. He also changed the ways in which the Sultanate held its traditional ceremonies; doing away with ceremonies which he considered obsolete.[citation needed] In 1942, the Dutch Colonial Government in Indonesia was defeated by the Japanese Imperial Army. As the Japanese Imperial Army consolidated their hold on Indonesia, many suggested that Hamengkubuwono IX evacuate himself and seek asylum in Australia or the Netherlands. Hamengkubuwono IX refused this offer, insisting that Sultan has to stay close to its people in times of crisis.[citation needed] In fact, he saved his people from being sent to Burma to become romusha forced-labors, by asking the Japanese to allow the building of a water canal (the Selokan Mataram).

Indonesian War of Independence

Directly after the declaration of Indonesian independence at 17 August 1945, Hamengkubuwono IX together with Paku Alam VIII, the Prince of Pakualaman decided to support the newly formed Republic. Hamengkubuwono IX's support was immediately recognized by the Central Government with an appointment to the Life-Governorship of Yogyakarta with Paku Alam VIII as Vice Governor. Yogyakarta's status was also upgraded to that of Special Region. In addition, Hamengkubuwono IX served as Yogyakarta's Military Governor and was also Minister of the State from 1945–49.[citation needed]
The Dutch returned to lay claim to their former colony. Hamengkubuwono IX played a vital role in the resistance. In early 1946, the capital of Indonesia was quietly relocated to Yogyakarta, in that time the Sultan gave the new government some funds. When Indonesia first sought a diplomatic solution with the Dutch Government, Hamengkubuwono IX was part of the Indonesian delegation.[citation needed] On 21 December 1948, the Dutch successfully occupied Yogyakarta and arrested Sukarno and Hatta, Indonesia's first President and Vice President. Hamengkubuwono IX did not leave Yogyakarta and continued to serve as Governor.[citation needed] The Dutch intended to make Yogyakarta the capital of the new Indonesian federal state of Central Java and to appoint the sultan as head of state, but Hamengkubuwono refused to cooperate.[2] The Dutch viewed him with suspicion and at one stage began to entertain the idea that Hamengkubuwono IX was either planning to make Yogyakarta a completely autonomous region or setting his eyes on the leadership of the Republic.[3]

1 March General Offensive

In early 1949, Hamengkubuwono IX conceived the idea of a major offensive to be launched against Yogyakarta and the Dutch troops occupying it. The purpose of this offensive was to show to the world that Indonesia still existed and that it was not ready to surrender. The idea was suggested to General Sudirman, the Commander of the Indonesian Army and received his approval. In February 1949, Hamengkubuwono IX had a meeting with then Lieutenant Colonel Suharto, the man chosen by Sudirman to be the field commander for the offensive. After this discussion, preparations were made for the offensive. This involved intensified guerilla attacks in villages and towns around Yogyakarta so as to make the Dutch station more troops outside of Yogyakarta and thin the numbers in the city itself.[citation needed] On 1 March 1949 at 6 am, Suharto and his troops launched the 1 March General Offensive. The Offensive caught the Dutch by surprise. For his part, Hamengkubuwono IX allowed his palace to be used as a hide out for the troops. For 6 hours, the Indonesian troops had control of Yogyakarta before finally retreating. The Offensive was a great success, inspiring demoralized troops all around Indonesia and most importantly, caused the United Nations to pressure the Netherlands to recognize Indonesia's independence.[citation needed]
On 30 June 1949,the retreating Dutch forces handed over authority over Jogyakarta to Hamengkubuwono.[4]
On 27 December, immediately after the transfer of sovereignty was signed by Queen Juliana in Dam Palace in Amsterdam, High Commissioner A.H.J. Lovink transferred his powers to Hamengkubuwono during a ceremony in Koningsplein Palace, later renamed Merdeka Palace.[5]

Minister in the Indonesian Government

After Indonesia's Independence was recognized by the Dutch Government, Hamengkubuwono IX continued to serve the Republic. In addition to continuing his duties as Governor of Yogyakarta, Hamengkubuwono IX continued to serve in the Indonesian Government as Minister.[6]
Hamengkubuwono IX served as Minister of Defense and Homeland Security Coordinator (1949–1951 and 1953), Vice Premier (1951), Chairman of the State Apparatus Supervision (1959), Chairman of the State Audit Board (1960–1966), and Coordinating Minister for Development while concurrently holding the position of Minister of Tourism (1966).[citation needed] In addition to these positions, Hamengkubuwono IX have also served as Chairman of the Indonesian National Sports Committee (KONI) and Chairman of the Tourism Patrons Council.

Transition from Old Order to New Order

During the G30S Movement, in the course of which six Generals were kidnapped from their homes and killed, Hamengkubuwono IX was present in Jakarta. That morning, with President Sukarno's location still uncertain, Hamengkubuwono was contacted by Suharto, who was now a Major General and the Commander of Kostrad for advice. Suharto suggested that because Sukarno's whereabouts are still unknown, Hamengkubuwono IX should form a provisional Government to help counter the movement.[7] Hamengkubuwono IX rejected the offer and contacted one of Sukarno's many wives who confirmed Sukarno's whereabouts.
After Suharto had received Supersemar in March 1966, Hamengkubuwono IX and Adam Malik joined him in a triumvirate to reverse Sukarno's policies. Hamengkubuwono IX was appointed Minister of Economics, Finance, and Industry and charged with rectifying Indonesia's Economic problems. He would hold this position until 1973.[citation needed]

Vice Presidency

Ever since Mohammad Hatta resigned as Vice-President in December 1956, the position had remained vacant for the rest of Sukarno's time as President. When Suharto was formally elected to the Presidency in 1968 by the People's Consultative Assembly, it continued to remain vacant. Finally in March 1973, Hamengkubuwono IX was elected as Vice President alongside Suharto who had also been re-elected to a 2nd term as President.[citation needed]
Hamengkubuwono IX's election was not a surprise as he was a popular figure in Indonesia. He was also a civilian and his election to the Vice Presidency was hoped to complement Suharto's military background. Despite being officially elected in 1973, it can be said that Hamengkubuwono IX had been the de facto Vice President beforehand as he regularly assumed the leadership of the country whenever Suharto was out of the country.[8] As Vice President, Hamengkubuwono IX was put in charge of welfare and was also given the duty of supervising economic development.[9]
It was expected that the Suharto and Hamengkubuwono IX duet would be retained for another term. However, Hamengkubuwono IX had become disillusioned with Suharto's increasing authoritarianism and the increasing corruption.[10]
These two elements were also recognized by protesters who had demanded that Suharto not stand for another term as President. These protests reached its peak in February 1978, when students of Bandung Technological Institute (ITB) published a book giving reasons as to why Suharto should not be elected President. In response, Suharto sent troops to take over the campus and issued a ban on the book.[citation needed] Hamengkubuwono could not accept what Suharto had done. In March 1978, Hamengkubuwono rejected his nomination as Vice President by the MPR. Suharto asked Hamengkubuwono to change his mind, but Hamengkubuwono continued to reject the offer and cited health as his reason for not accepting the nomination.[11]
Suharto took Hamengkubuwono IX's rejection personally and in his 1989 autobiography would claim credit for conceiving the 1 March General Offensive.[citation needed]

Scout movement

Hamengkubuwono IX had been active with Scouts from the days of the Dutch colonial government and continued to look after the movement once Indonesia became independent. In 1968, Hamengkubuwono IX was elected Head of the national Scout movement. Hamengkubuwono IX was also awarded the Bronze Wolf, the only distinction of the World Organization of the Scout Movement, awarded by the World Scout Committee for exceptional services to world Scouting, in 1973.[citation needed]

Death

Hamengkubuwono IX died at the George Washington University Medical Center in the United States on 1 October 1988 and was buried at Imogiri. There is a special museum dedicated to him in the sultan's palace (kraton) in Yogyakarta. He was also given the title National Hero of Indonesia, a distinction for Indonesian patriots. He was replaced by his son, Raden Mas Herdjuno Darpito, who took the name Hamengkubuwono X.

Marriage status

Hamengkubuwono IX never had a Queen Consort during his reign; preferring instead to take four concubines from which he had 21 children.[citation needed]

Miscellaneous

Hamengkubuwono IX was a fan of wuxia movies and novels.[12] He also enjoyed cooking and headed an unofficial cooking club which included Cabinet Ministers as its members.

Honours

Sources

  • Roem, Mohammad. Tahta untuk Rakyat (English: A Throne for the People), Jakarta: Gramedia (1982) – Biography of Hamengkubuwono IX.
  • Soemardjan, S., In Memoriam: Hamengkubuwono IX, Sultan of Yogyakarta, 1912–1988 Indonesia. 47:115–117 (1989)

References

  1. ^ "Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Bangsawan Yang Demokratis (Sri Sultan Hamengkubuwono IX, the Democratic Aristocrat)". Tokohindonesia. Retrieved 28 October 2006.
  2. ^ Van den Doel, H.W., Afscheid van Indië. De val van het Nederlandse Imperium in Azië [Farewell to the Indies. The Fall of the Dutch Empire in Asia] (Amsterdam: Prometheus 2001), page 337.
  3. ^ Elson, Robert (2001). Suharto: A Political Biography. UK: The Press Syndicate of the University of Cambridge. p. 33. ISBN 0-521-77326-1.
  4. ^ Van den Doel, H.W., Afscheid van Indië. De val van het Nederlandse Imperium in Azië [Farewell to the Indies. The Fall of the Dutch Empire in Asia] (Amsterdam: Prometheus 2001), page 344.
  5. ^ Van den Doel, H.W., Afscheid van Indië. De val van het Nederlandse Imperium in Azië [Farewell to the Indies. The Fall of the Dutch Empire in Asia] (Amsterdam: Prometheus 2001), page 351.
  6. ^ Van den Doel, H.W., Afscheid van Indië. De val van het Nederlandse Imperium in Azië [Farewell to the Indies. The Fall of the Dutch Empire in Asia] (Amsterdam: Prometheus 2001), page 284.
  7. ^ Hughes, John (2002) [1967]. The End of Sukarno: A Coup That Misfired: A Purge That Ran Wild (3rd ed.). Singapore: Archipelago Press. p. 68. ISBN 981-4068-65-9.
  8. ^ Elson, Robert (2001). Suharto: A Political Biography. UK: The Press Syndicate of the University of Cambridge. p. 167. ISBN 0-521-77326-1.
  9. ^ ""Wakil Presiden, antara Ada dan Tiada" (The Vice Presidency, between Existence and Non-Existence"". Kompas. 8 May 2004. Retrieved 30 October 2006.
  10. ^ Elson, Robert (2001). Suharto: A Political Biography. UK: The Press Syndicate of the University of Cambridge. p. 225. ISBN 0-521-77326-1.
  11. ^ "Sultan Hamengkubuwono IX". Setwapres. Retrieved 30 October 2006.
  12. ^ "Komunitas Pendekar Penggebuk Anjing". Kompas. Retrieved 28 October 2006.

Kamis, 01 November 2012

RADEN AJENG KARTINI

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan



jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Referensi :
- http://chrissanta.wordpress.com
- http://www.dapunta.com/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html